Kami ingin menikah, tapi aku harus menunggu ya... kuputuskan untuk menunggu karena aku maunya sama kamu *gombal mode on* (づ ̄ ³ ̄)づ
Selama menunggu aku berusaha fokus lagi dengan tujuanku yang lain, yaitu orang tuaku. Aku mempunyai keinginan melihat kedua orang tuaku hidup dengan tentram dan nyaman sebelum nantinya aku dibawa suami. Setelah bekerja, aku selalu menyisihkan sebagian penghasilanku untuk ditabung agar bisa membeli rumah bagi orang tuaku, agar mereka memiliki tempat tinggal untuk menetap tanpa harus pindah-pindah kontrakan lagi.
Hingga akhirnya, alhamdulillah tabunganku cukup untuk membayar uang muka rumah dengan KPR bersubsidi. Dari mulai pencarian info harga rumah, uang muka, cicilan dengan harga yang cocok sampai survey ke tempat dan hampir melakukan akad. Namun selalu berujung ketidakcocokan Bapa dengan kondisi daerah rumah tersebut. Setelah ditelusuri ternyata alasan sebenarnya Bapa tidak tega jika anak perempuannya harus menanggung cicilan seberat itu karena tempat tinggal masih jadi tanggung jawab beliau. Padahal Bapa sudah sakit-sakitan akibat diabetes yang dideritanya, anakmu ini hanya ingin masa tuamu dilalui dengan tenang tanpa beban pikiran. Meskipun hal ini takkan mampu membalas jasa-jasa kalian (。•́︿•̀。).
Di tengah kondisi seperti itu, Aa (panggilan si dia) membahas lagi tentang pernikahan, tentang adiknya yang sudah lulus dan langsung mendapat pekerjaan, tentang ibunya yang menyuruhnya segera menikahiku. Kepastian yang kutunggu akhirnya tiba tapi tidak langsung kusambut bahagia, padahal dulu aku yang menggebu mengajaknya menikah.

